Kamis, 31 Maret 2016

cara menyetek

Cara stek sebuah tanaman & Teknik pembuatan stek pada tanaman

Stek (cutting atau stuk) atau potongan adalah menumbuhkan bagian atau potongan tanaman, sehingga menjadi tanaman baru. Ada beberapa keuntungan yang didapat dari tanaman yang berasal dari bibit stek, yaitu:
  • Tanaman baru mempunyai sifat yang persis sama dengan induknya, terutama dalam hal bentuk buah, ukuran, warna dan rasanya.
  • Tanaman asal stek dapat ditanam pada tempat yang permukaan air tanahnya dangkal, karena tanaman asal stek tidak mempunyai akar tunggang.
  • Perbanyakan tanaman buah dengan stek merupakan cara perbanyakan yang praktis dan mudah dilakukan.
  • Stek dapat dikerjakan dengan cepat, murah, mudah dan tidak memerlukan teknik khusus seperti pada cara cangkok dan okulasi.
Sedangkan potensi kerugian bibit dari menyetek adalah:
  • Perakaran dangkal dan tidak ada akar tunggang, saat terjadi angin kencang tanaman menjadi mudah roboh.
  • Apabila musim kemarau pan-jang, tanaman menjadi tidak tahan kekeringan.
Cara perbanyakan tanaman dengan teknik menyetek dapat dilakukan melalui stek pada batang, stek akar dan stek daun:
1) Cara Stek Tanaman pada Batang
Bakal stek diambil dari batang atau cabang batang pohon induk yang akan diperbanyak dan pemotongan sebaiknya dilakukan pada waktu pagi hari. Gunting stek yang digunakan saat menyetek harus tajam agar bekas potongan pada batang rapi. Bila kurang tajam batang akan rusak atau memar. Hal ini mengundang bibit penyakit masuk ke bagian yang memar pada batang, sehingga bisa menyebabkan pembusukkan pangkal stek pada batang. Pada saat mengambil stek atau menyetek pada batang, pohon induk harus dalam keadaan sehat dan tidak sedang bertunas.
Syarat batang yang akan di ambil:
  • Batang yang dijadikan stek biasanya adalah bagian pangkal dari cabang.
  • Pemotongan cabang batang diatur kira-kira 0.5cm di bawah mata tunas yang paling bawah dan untuk ujung bagian atas sejauh 1 cm dari mata tunas yang paling atas.
  • Kondisi daun pada batang cabang yang hendak diambil sebaiknya berwarna hijau tua. Dengan demikian seluruh daun dapat melakukan fotosintesis yang akan menghasilkan zat makanan dan karbohidrat. Zat hasil fotosintesis akan disimpan dalam organ penyimpanan, antara lain di batang. Karbohidrat pada batang berperan sangat penting yaitu sebagai sumber energi yang dibutuhkan pada waktu pembentukan akar baru.
Kondisi dan ukuran saat pengambilan batang yaitu:
  • Ukuran besar cabang batang yang diambil cukup sebesar kelingking.
  • Diameter batang sekitar 1 cm dengan panjang antara 10-15 cm.
  • Cabang batang tersebut memiliki 3-4 mata tunas.
  • Kondisi batang pada saat pengambilan berada dalam keadaan setengah tua dengan warna kulit batang biasanya coklat muda. Pada saat ini kandungan karbohidrat dan auxin (hormon pertumbuhan akar) pada batang cukup memadai untuk menunjang terjadinya perakaran stek.
  • Pada batang yang masih muda, kandungan karbohidrat rendah tetapi hormonnya cukup tinggi. Biasanya pada kasus ini hasil stekan akan tumbuh tunas terlebih dahulu, padahal stek yang baik harus tumbuh akar dulu. Oleh karena itu, stek yang berasal dari batang yang muda sering gagal.
Menyetek sebuah tanaman dari batang ada yang mudah berakar dan ada juga yang sulit berakar. Untuk tanaman yang mudah berakar seperti pada anggur, maka batang stek bisa langsung disemaikan setelah dipotong dari pohon induknya. Tetapi untuk tanaman yang sulit berakar, sebaiknya sebelum batang stek disemai dilakukan dulu pengeratan batang. Selain itu, pemberian hormon tumbuh dapat membantu pertumbuhan akar.
Persiapan dan bentuk entres: A. Entres siap disemai. B. Entres dicelupkan ke dalam Zat Perangsang Tumbuh C. Entres yang sudah tumbuh akar D. Pangkal entres berbentuk datar E. Pangkal entres berbentuk sisi satu. F. Pangkal entres berbentuk sisi dua.
Persiapan dan bentuk entres: A. Entres siap disemai. B. Entres dicelupkan ke dalam Zat Perangsang Tumbuh C. Entres yang sudah tumbuh akar D. Pangkal entres berbentuk datar E. Pangkal entres berbentuk sisi satu. F. Pangkal entres berbentuk sisi dua.

2) Cara Stek Tanaman pada akar
Berbeda dengan batang, cara menyetek berikut ini menggunakan bagian akar sebagai sarana perbanyakan tanaman. Pada stek batang, tunas keluar dari mata tunas. Pada stek akar tunas akan keluar dari bagian akar yang mula-mula berbentuk seperti bintil. Bisa juga dari bekas potongannya yang mula-mula membentuk kalus. Dari kalus ini berubah menjadi tunas atau akar.Ada beberapa jenis tanaman yang dapat diperbanyak dengan cara menyetek akar, antara lain jambu biji, sukun, jeruk dan kesemek. Bahan stek akar harus diambil dengan cara menggali lubang di sekeliling pokok pohon induk. Pada akar lateral yang terpotong, akan tumbuh akar yang tumbuh ke arah samping sejajar dengan permukaan tanah. Pilihlah akar yang berdiameter sekitar 1 cm. Setelah akar diambil, lubang ditutup kembali. Akar tanaman dipotong-potong dengan panjang antara 5-10cm. Pada waktu memotong akar, harus diperhatikan agar bagian akar yang dekat dengan pohon atau pangkal akar dipotong secara serong. Bagian dekat ujung akar dipotong secara datar atau lurus. Hal ini diperlukan sebagai tanda agar pada waktu menyemai posisinya tidak terbalik.
Media penyemaian stek akar bisa dari pasir. Penyemaian bisa dilakukan di dalam kotak kayu atau di bedeng persemaian. Stek disemaikan dengan cara tegak atau berdiri, atau dapat juga dengan dibaringkan. Untuk penyemaian posisi tegak, jarak yang direkomndasikan adalah 5×5 cm. Bagian pangkal yang dibenamkan ke dalam media kira-kira 3 cm atau setengah dari panjang stek.
Bila penyemaian dengan dibaringkan, maka stek disusun dalam barisan. Jaraknya 5 cm antar barisan, kemudian stek di tutup pasir, sehingga stek berada pada kedalaman 1,5-2 cm di bawah permukaan media. Setelah 3-4 minggu stek akan bertunas dan berakar. Stek bisa dipindahkan ke polybag setelah lebih kurang 2 bulan. Selanjutnya disimpan di bawah naungan sampai berumur sekitar 6 bulan.
3) Mempercepat pertumbuhan akar pada stek
a) Pengeratan (girdling) pada batang
Penimbunan karbohidrat pada cabang batang pohon induk yang akan dijadikan stek dapat dilakukan dengan cara pengeratan kulit batang kayu sekeliling cabang batang dibuang secara melingkar. Lebar lingkaran yang dibuang pada batang sekitar 2 cm. Jarak dari ujung cabang batang ke batas keratan kira-kira 40 cm. Biarkan cabang batang yang sudah dikerat selama 2-4 minggu. Pada dasar keratan batang tadi akan tampak benjolan atau kalus. Pada benjolan inilah terjadi penumpukan karbohidrat yang berfungsi sebagai sumber tenaga pada saat pembentukan akar dan hormon auksin yang dibuat di daun. Setelah terlihat benjolan barulah cabang batang dapat dipotong dari induknya. Bagian pangkal cabang batang sepanjang 20 cm bisa dijadikan sebagai stek.
b) Penggunaan hormon tumbuh
Hormon auksin bertindak sebagai pendorong awal proses inisiasi atau terjadinya akar. Sesungguhnya tanaman sendiri menghasilkan hormon, yaitu auksin endogen, akan tetapi banyaknya auksin yang dihasilkan belum cukup memadai untuk mendorong pembentukan akar. Tambahan auksin dari luar diperlukan untuk memacu perakaran stek.
(1) Cara celup cepat (quick dip)
  • Pada cara ini hormon auksin dilarutkan ke dalam alkohol 50%. Kemudian tambahkan air sesuai dengan konsentrasi yang dibutuhkan. Jenis hormon auksinnya bisa IBA, IAA atau NAA (berbentuk serbuk).
  • Konsentrasi yang digunakan berkisar antara 500-10.000 ppm, tergantung jenis hormon dan jenis tanamannya. Atau lebih mudahnya menggunakan hormon tumbuh yang sudah siap untuk digunakan yang banyak dijual di toko pertanian, seperti Atonik atau Liquinox Start dengan dosis 100-200 cc per 1 liter air (1 sendok makan = 10 cc).
  • Batang batang stek yang akan diberi hormon disatukan. Bisa dengan diikat menggunakan tali plastik atau karet gelang. Selanjutnya bagian pangkal batang -nya sekitar 2 cm dicelupkan selama 5 detik ke dalam larutan hormon.
Cara celup ini mempunyai beberapa keuntungan sebagai berikut:
  • Peralatan yang digunakan lebih sedikit bila dibandingkan dengan cara perendaman.
  • Larutan yang sama bisa digunakan berulang-ulang. Yang penting setelah digunakan, larutan ditutup kembali agar alkoholnya tidak menguap.
  • Naik turunnya penyerapan hormon tidak akan terjadi pada waktu pencelupan. Dengan demikian, banyaknya hormon per satuan luas permukaan akan tetap, tidak tergantung keadaan lingkungan.
(2) Cara rendam (prolonged soaking)
  • Mula-mula auksin (berbentuk serbuk) dilarutkan dalam alkohol 95%. Kemudian ditambahkan air sesuai dengan konsentrasi yang dibutuhkan. Konsentrasi auksin yang digunakan berkisar antara 5-100 ppm, tergantung jenis tanaman dan jenis auksin yang digunakan. Umumnya untuk menyetek tanaman buah digunakan konsentrasi 100 ppm dengan lama perendaman 1-2 jam. Bisa juga dengan konsentrasi 5 ppm, tetapi waktu perendamannya lama, yaitu 10-24 jam.
  • Untuk lebih memudahkan dapat menggunakan hormon tumbuh yang sudah siap pakai dan banyak dijual di toko pertanian, seperti Atonik atau Liquinox Start dengan dosis 1-2 cc per 1 liter air (1 sendok makan = 10 cc).
  • Jadi perbandingan dosis auksin pada pencelupan dan perendaman adalah 100 : 1.
Cara perendaman batang sebagai berikut.
  • Batang stek direndam dalam larutan auksin kira-kira 2 cm dari bagian pangkal.
  • Agar penyerapan auksin berlangsung dengan baik pada batang, maka lama perendaman disesuaikan dengan konsentrasi larutan.
  • Perendaman batang dilakukan ditempat yang teduh dan agak lembab. Hal ini berguna agar penyerapan hormon berjalan teratur, tidak kurang karena pengaruh lingkungan.
(3) Cara pemberian dengan tepung tepung (powder)
  • Mula-mula auksin dilarutkan dalam alkohol 95%. Ke dalam larutan tersebut ditambahkan talek atau tepung sesuai dengan konsentrasi yang digunakan. Konsentrasi berkisar antara 1.000-5.000 ppm tergantung jenis tanaman dan jenis auksin yang digunakan. Pelarut Alkohol diupayakan untuk diuapkan. Cara pemakaiannya adalah sebagai berikut: basahi pangkal stek dengan air, kemudian disentuhkan ke dalam tepung. Pangkal stek kemudian diketuk-ketuk agar auksin yang melekat tidak berlebihan. Setelah itu stek dapat disemaikan dalam media.
  • Pada setiap cara diatas konsentrasi dibuat berdasar-kan ppm. Pengertian ppm (part per million) artinya 1 bagian hormon dalam sejuta bagian pelarut atau tepung. Jadi jika akan membuat larutan dengan konsentrasi 1.000 ppm, maka 1.000 mg hormon dilarutkan dalam 1.000.000 mg pelarut, atau 1 gr hormon ke dalam 1 kg pelarut.
  • Pembuatan tepung dengan konsentrasi 1.000 ppm dengan cara melarutkan 1 gr hormon dalam 500- 1.000 cc alkohol 95%. Setelah diaduk sampai rata, masukkan 1 kg tepung (talc) dan diaduk kembali. Selanjutnya tepung tersebut dikeringkan sampai seluruh alkoholnya menguap.
  • Untuk proses yang lebih mudah dapat menggunakan hormon tumbuh auksin yang sudah siap digunakan dan banyak dijual di toko pertanian dalam bentuk serbuk dengan berbagi merek dagang.
4) Persemaian stek
Stek yang sudah diberi perlakuan hormon penumbuh akar siap untuk disemaikan. Untuk itu perlu menyediakan tempat yang kondisinya sesuai. Usaha untuk menumbuhkan stek perlu dilakukan pada lingkungan yang mempunyai cahaya baur atau terpencar (difusi). Kelembaban udara sebaiknya tinggi, sekitar 70-90%, Suhu mendekati suhu kamar, 25-27oC. Selain itu dalam pembentukan akar stek diperlukan oksigen yang cukup. Oleh karena itu media yang digunakan harus cukup gembur, sehingga aerasinya baik.
Penyemaian dalam kotak kayu dilakukan dengan rangkaian sebagai berikut. Kotak kayu untuk menyemaikan stek bisa dibuat dari papan dengan ukuran panjang 80-100 cm, lebar 40-50 cm dan tinggi 20-30 cm. Ukuran kotak bisa lebih besar atau lebih kecil, disesuaikan dengan banyaknya stek yang akan disemaikan. Untuk lebih praktis dapat juga digunakan kotak plastik (box semai) dengan ukuran panjang 35-40 cm, lebar 25-30 cm dan tinggi 10-15 cm yang banyak dijual di toko pertanian. Media tumbuh dapat menggunakan pasir, atau menggunakan campuran pasir dengan sekam padi dengan perbandingan 2:1. Media tersebut dimasukkan ke dalam kotak kayu. Tebal lapisan media antara 10-15 cm.
Lakukan penyiraman dengan gembor, sehingga permukaan media turun dan kompak. Sebelum stek disemai, terlebih dahulu dibuat lubang-lubang kecil pada media. Turus bambu yang dibulatkan bisa dipakai atau dapat pula dengan ranting batang pohon sebesar pensil. Perkirakan jarak lubang sekitar 5×5 cm dan dalamnya sekitar 5-7,5 cm atau setengah dari panjang stek. Setelah itu baru bagian pangkal stek dimasukkan ke dalam lubang. Bagian media di sekitar stek ditekan perlahan-lahan agar posisi stek tidak goyah. Selanjutnya persemaian disiram lagi. Kotak kemudian ditutup dengan lembar plastik bening atau transparan. Sebaiknya kotak di-taruh pada tempat yang terlindung dari teriknya sinar matahari.
Penyiraman persemaian harus dilakukan setiap hari sekali atau tergantung keadaan. Yang penting media persemaian selalu dalam kondisi basah. Setelah 2-3 bulan stek sudah mulai berakar, tunggu beberapa hari lagi sampai kelihatannya berwarna coklat dan stek sudah dapat dipindahkan ke dalam polybag. Cungkil stek dengan bilah bambu secara hati-hati agar perakarannya tidak menjadi rusak.
Persemaian di bedengan dilakukan sebagai berikut. Apabila batang stek yang akan kita semaikan jumlahnya banyak maka penyemaian bisa dilakukan dalam bedengan. Bedengan dibuat dengan arah Utara-Selatan agar batang stek bisa menerima matahari secara baik. Lahan yg akan dibuat bedengan dicangkul sedalam 25-30 cm (sedalam mata cangkul). Ukuran bedengan dibuat selebar 80-100 cm dengan panjang bedengan disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk menghindari adanya tanah yang longsor tepi bedengan bisa dihalangi dengan bilah bambu atau batu bata.
Bedengan perlu dilengkapi dengan naungan untuk melindungi bibit dari sengatan matahari yang berlebihan. Naungan yg bisa terbuat dari daun kelapa, daun alang-alang atau jerami padi. Jika ingin menggunakan naungan dari paranet gunakanlah paranet tipe 75% (sinar yg masuk ke bedengan sebesar 25%). Tanah lapisan atas ditaburi pasir setebal lebih kurang 5 cm. Lakukan penyiraman agar media basah. Setelah itu batang stek bisa ditancapkan. Jarak stek yg disemaikan ialah 5×5 cm. Untuk menjaga agar kelembaban di sekitar stek menjadi tinggi, bedengan disungkup dengan plastik transparan.
Setelah ukuran batang stek memenuhi standar dan mempunyai akar, maka batang stek harus disapih/transplanting. Standar batang stek yang siap disapih adalah mempunyai 4-6 daun baru yg sudah mekar dengan sempurna (daun-daun sudah mendapatkan nutrisi dari akar baru yang sudah tumbuh).
  • Siapkan polybag sesuai dengan ukuran batang stek (diamter 10-20 cm).
  • Siapkan media pembibitan dengan komposisi tanah dengan kompos 1:1.
  • Isi polybag dengan media tanam yang telah disiapkan dan buatlah lubang tanam yang sesuai dengan ukuran bibit stek.
  • Pindahkan bibit batang stek dengan cara mengambil stek beserta akar bibit dan sedikit media stek, lalu benamkan bibit stek dengan hati-hati pada media tanam dan timbuh bibit stek dengan media tanam yang telah disiapkan kemudian lakukan pemadatan seperlunya agar stek berdiri dengan tegak.
  • Pindahkan polybag stek ke bangunan pembibitan yang bernaungan/ rumah plastik/ rumah kaca.
  • Lakukan pemeliharaan stek dengan cara menyiram , memupuk, mengendalikan OPT dan memberi air (jika perlu) sampai dengan stek cukup besar ukurannya dan siap untuk dipasarkan.
Persiapan penanaman stek: A. Menyiapkan alat, B. Menyiapkan bahan, C. Menyiapkan sungkup, D.Menyiapkan media, E. Menyiapkan bahan stek , F. Memangkas daun
Persiapan penanaman batang stek: A. Menyiapkan alat, B. Menyiapkan bahan, C. Menyiapkan sungkup, D.Menyiapkan media, E. Menyiapkan bahan stek , F. Memangkas daun
Penanaman stek pada media tanah: A. Menyiapkan batang stek B. Menyiapkan hormon, C. Menanam bahan stek dari cabang mawar, D. Menanam bahan stek dari tangkai daun, E. Menanambahkan stek bunga soka F. Menempatkan hasil stek.
Penanaman stek pada media tanah: A. Menyiapkan batang stek B. Menyiapkan hormon, C. Menanam bahan stek dari cabang batang mawar, D. Menanam bahan stek dari tangkai daun, E. Menanambahkan stek bunga soka
F. Menempatkan hasil stek.
memelihara stek
G.Memelihara stek, H.Memeriksa pertumbuhan akar dari bibit yang berasal dari menyetek, I.Hasil penyetekan, J.Bunga mawar hasil stek pada batang siap jual.

Info Pengetahuan Seputar Batang Tanaman
Kata batang berasal dari bahasa Latin yaitu caulis, dan batang merupakan salah satu dari organ dasar pada tumbuhan berpembuluh. Batang disebut juga sebagai sumbu tumbuhan, dimana batang menjadi tempat semua organ lain bertumpu dan tumbuh. Daun serta akar dianggap sebagai perkembangan lanjutan dari batang untuk menjalankan fungsi yg lebih khusus pada tanaman.
Ciri batang & fungsi batang
Tanpa batang, tumbuhan berpembuluh tidak dapat hidup, hal ini dikarenakan  titik tumbuh berasal dari batang.
Pada umumnya batang mempunyai sifat-sifat berikut ini :
  • Batang umumnya berbentuk panjang bulat seperti silinder atau dapat pula mempunyai bentuk lain, akan tetapi selalu bersifat aktinomorf (simetri radial).
  • Batang terdiri atas ruas-ruas yg masing-masing dibatasi oleh buku-buku dan pada buku-buku inilah muncul tunas yg membentuk cabang batang, daun, atau akar.
  • Batang biasanya tumbuh ke atas menuju cahaya atau matahari (bersifat fototrop atau heliotrop).
  • Selalu bertambah panjang di ujungnya, oleh sebab itu sering dikatakan, bahwa batang mempunyai pertumbuhan yg tidak terbatas.
  • Batang mengadakan percabangan dan selama hidupnya tumbuhan, tidak digugurkan, kecuali kadang-kadang cabang atau ranting yg kecil.
  • Batang umumnya tidak berwarna hijau, kecuali tumbuhan yg umurnya pendek, misalnya rumput dan waktu batang masih muda.
Banyak tumbuhan yg memiliki perkecualian sifat batang dari yg telah disebutkan di atas, baik hanya satu atau beberapa ciri.
Evolusi pada batang
Sejalan dengan teori yg banyak dianut sekarang, bahwa tumbuhan berpembuluh merupakan perkembangan lanjutan dari salah satu kelompok tumbuhan talus berklorofil, yaitu Charophyta, batang merupakan perkembangan dari talus yg kemudian terdiferensiasi jaringannya, membentuk jaringan pembuluh
Akar merupakan perkembangan dari batang purba yg berada di dekat permukaan tanah yg kemudian mengalami spesialisasi sebagai alat penyerap air.
Daun sejati, yg dimiliki oleh sebagian besar anggota tumbuhan berpembuluh, dianggap terbentuk dari penyatuan ranting-ranting kecil yg saling berdekatan dan masih membawa klorofil dan pigmen-pigmen lainnya. Teori ini dikenal sebagai teori megaphyll. Daun kelompok Lycophyta dianggap terbentuk dari jalur evolusi yg lain, yaitu terbentuk dari bagian sporangium. Ini dikenal sebagai teori microphyll.
Modifikasi yang terjadi pada batang
Batang dapat memiliki fungsi tambahan, yg berakibat pada berubahnya bentuk (morfologi) dari bentuk batang dasar menjadi bentuk yg lain. Berikut ini adalah beberapa bentuk modifikasi yg terjadi pada batang.
  • Bonggol, pangkal batang atau batang bulat pendek yg berada tepat di bawah permukaan tanah. Bonggol yg memiliki fungsi tambahan sebagai tempat cadangan energi disebut sebagai bonggol umbi (cormus). Contoh tumbuhan yg memiliki batang bonggol seperti: batang pisang, batang suweg.
  • Geragih (stolo), suatu cabang khusus yg menjalar di permukaan atau di bawah permukaan tanah dengan ruas yg panjang dan pada bukunya lalu muncul tunas daun atau akar. Contoh : lili paris, kentang
  • Rimpang (rhizom), yaitu batang mendatar, batang gemuk, dan berada di permukaan tanah atau di bawah permukaan, dengan ruas-ruas pendek. Contoh: berbagai batang tanaman temu-temuan
  • Umbi batang (tuber), yg merupakan pembengkakan geragih atau rimpang karena bertambah fungsi batang sebagai penyimpan cadangan energi.
  • Batang membulat yg memiliki fungsi sebagai organ sukulen (penyimpan air) disebut sebagai caudex.
  • Cakram pada umbi lapis, suatu bentuk batang yg sangat pendek dan menjadi penyangga dari pangkal daun sukulen. Contoh : batang pada bawang-bawangan, batang pada tanaman Amaryllis

cara mengkultur jaringan tumbuhan


Langkah-langkah Melakukan Kultur Jaringan untuk Budidaya Tanaman


Langkah-langkah Melakukan Kultur Jaringan untuk Budidaya Tanaman – Kultur jaringan, atau metode di mana sel makhluk hidup bisa bertahan di luar organisme tersebut, telah memberikan jalan untuk berbagai penemuan yang sebelumnya tak terbayangkan. Salah satunya adalah kloning DNA atau teknologi dengan DNA rekombinan.
1
Dari sampel jaringan yang sedikit saja, dengan kultur jaringan, sel-sel baru bisa ditumbuhkan. Tak mengherankan jika metode ini digunakan untuk meningkatkan produksi tanaman.

Kultur Jaringan Tanaman

Sejak dahulu, tanaman dikenal punya kemampuan regeneratif yang sangat luar biasa. Terbukti, mereka bisa tumbuh di mana-mana, baik dengan cangkok atau transplantasi. Namun budidaya tanaman dengan cara in vitro dahulu belum berhasil, karena masih terbatasnya pengetahuan tentang tanaman.
Baru di tahun 1920-1930an, terjadi kemajuan. Di tahun 1939, Philip R White berhasil mengembangkan kultur wortel dan tembakau dengan cara in vitro.
Dilanjutkan dengan komersialisasi larutan untuk nutrisi tanaman dari Folke Skoog, penemu sifat baru dari hormon auksin, bersama rekannya, Toshio Murashige.
Di akhir tahun 1950-an, Kenneth Vivian Thiman menemukan cara agar tanaman bisa tumbuh dengan cepat, menggunakan kinetin yang mematahkan tunas lateral. Mulai saat itu, bisa dibilang hampir semua tanaman bisa ditanam dan ditumbuhkan di laboratorium hanya dari sampel jaringan saja.
Caranya adalah dengan mengumpulkan sel dalam satu tabung reaksi, cawan petri, atau inkubator. Setelah menempatkan spesimen sel tersebut di tempat yang telah disesuaikan, cairan diberikan sel kultur yang akan mendorong pertumbuhannya. Setelah diawasi beberapa waktu, tanaman tersebut tumbuh dan siap digunakan.

Langkah Kultur Jaringan untuk Tanaman

  1. Pemilihan tanaman induk sebagai sumber eksplan
Tanaman yang dipilih harus sudah jelas jenis, varietas, dan spesiesnya, serta bebas dari penyakit dan hama. Setelah itu, tanaman harus disiapkan di rumah kaca sehingga bebas dari kemungkinan kontaminasi.
  1. Inisiasi kultur
Kultur haruslah aseptik (bebas dari mikroorganisme) atau aksenik (tidak terkontaminasi mikroorganisme yang tak diinginkan. Di tahap ini, eksplan diharapkan bisa memulai pertumbuhan baru, yang bagian-bagiannya akan dipilih yang terkuat untuk multiplikasi.
  1. Sterilisasi
Saat proses kultur jaringan berlangsung, semua harus dilakukan di tempat yang steril, dengan alat-alat yang juga bersih. Untuk peralatan bisa menggunakan etanol. Tak hanya tempat dan alat, orang-orang yang melakukannya juga harus dibersihkan.
  1. Multiplikasi
Menggandakan tunas atau embrio tanaman dan memeliharanya dalam kondisi tertentu sehingga selalu siap untuk digunakan ke tahap berikutnya. Penggandaan bisa dengan merangsang pertumbuhan tunas cabang dan juga percabangan aksiler, atau merangsang pucuk secara adventif.
  1. Pengakaran
Fase di mana eksplan menunjukkan adanya pertumbuhan di bagian akar. Pada saat ini, pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat perkembangannya, serta mengawasi kemungkinan timbulnya bakteri/jamur.
  1. Aklimatisasi
Memindahkan eksplan atau bakal tanaman dari ruang steril ke bedengan. Harus dilakukan dengan hati-hati menggunakan sungkup, yang berguna sebagai pelindung bibit dari hama. Baru setelah bibit berhasil beradaptasi, sungkup dilepaskan perlahan dan bibit dipelihara seperti biasa.

Tentang Laboratorium

Tempat melakukan metode ini semua harus berada di laboratorium yang memenuhi syarat berikut:
  • Jauh dari polusi.
  • Dekat dengan tenaga listrik dan air.
  • Berada di daerah tinggi sehingga suhu ruangan terjaga tetap rendah.
Untuk ukuran dari laboratoriumnya sendiri, tergantung dari jumlah bibit yang akan dihasilkan. Sebagai patokan, untuk laboratorium seluas 250 m2, bisa menjadi tempat untuk produksi bibit sebanyak 400 ribu hingga 500 ribu bibit, yang akan mengisi lahan seluas 500-800 ha.
Laboratorium tersebut juga harus mempunyai gudang penyimpanan bahan, ruang untuk membuat media, ruang tanam, ruangan inkubasi, dan rumah kaca.

cara menccangkok

Warga Belajar--sekalian--mari kita lanjutkan seri keterampilan berikut dengan kegiatan keterampilan bercocok tanam lagi. Kali ini dengan kegiatan pembibitan dengan cara Cangkok. Mencangkok adalah proses membuat bibit tanaman dengan mengusakahan tumbuhnya akar pada bagian batang atau cabang sehingga bagian itu dapat ditanam sebagai bibit atau tanaman baru.

Untuk kegiatan mencangkok ini ada beberapa peralatan yang harus kita persiapkan antara lain :
1. Pisau/ cutter atau alat pemotong lain yang tajam untuk mengupas kulit pohon yang akan dicangkok.

2. Tali pelastik untuk mengikat pembungkus dan penutup bekas sayatan.
2. Plastik Pembungkus / ijuk / sabut kelapa untuk menutup dan membungkus bekas sayatan.
3. Tanah atau moss (sabut kelapa yang telah dihaluskan hancur untuk media tumbuhnya akar.

Cara mengupas/ menyayat dan memotong kulit cabang atau batang tanaman yang dicangkok adalah sebagai berikut :
  • Kulit sekeliling cabang atau batang yang telah dipilih disayat dan dikelupas sampai bagian kayunya sehingga lapisan kambiumnya hilang.
  • Sayat cabang atau batang hingga benar-benar bersih dari bagian kulit ataupun cambium dari batang pohon tersebut.Balut dan tutup hasil kupasan yang sudang selesai, diberi media berupa tanah atau moss tadi untuk tumbuh bagian akarnya.
  • Tutup media tanah atau moss dengan plastik transparan, sabut kelapa atau ijuk dengan erat supaya media melekat pada bagian batang atau cabang yang dikupas. Jika membungkus menggunakan plastik sebaiknya diberi lubang-lubang kecil dengan cara ditusuk-tusuk untuk tempat resapan dan masuknya air.
  • Lakukan penyiraman rutin jika tidak terjadi hujan atau mencangkok pada saat musim panas. Tetapi jika curah hujan tinggi dapat mengandalkan siraman air hujan saja.

Selanjutnya jika dari cangkokan tersebut telah terlihat akar yang sudah tumbuh terlihat banyak, maka dapat dilakukan pemotongan. Kemudian pindahkan untuk ditanam atau di deder(dibibit dalam pot atau plyback) untuk dibesarkan hingga tanaman cukup besar dan kuat untuk ditanam ditempat yang kita inginkan. Catatan sebaiknya penanaman tanaman baru ini dilakukan tepat pada awal musim hujan untuk menjadi ketersediaan air penyiraman yang lebih baik. Lakukan perawan tanam dengan memberi pupuk baik pupuk kandang, pupuk buatan, pestisida dan diberi pagar dari kayu atau bambu untuk penunjang atau penguat pada batang pohon.

Kamis, 21 Januari 2016

cara merawat tanaman

Cara Merawat tanaman pada pot sendiri memiliki aturan-aturan tertentu dan tidak asal-asalan, Sebenarnya cara merawatnya pun tidak sulit hanya saja harus memiliki ketelatenan yang cukup agar tanaman yang kita tanam dan rawat tetap tumbuh dengan baik dan benar.

Tanaman juga butuh perawatan agar selalu tumbuh dengan segar. Dalam merawat tanaman buah dalam pot harus memerhatikan beberapa faktor. Seperti penyiraman di musim kemarau sangat diperlukan. Karena jika memakai air PAM, yang biasanya mengandung kaporit, sebaiknya endapkan dulu semalam dan esoknya baru disiramkan.Usahakan benar-benar jangan sampai air siraman menggenang lebih dari 12 jam.

 Tanaman sangat tergantung pada penyiraman, khususnya tanaman dalam pot. Apabila penyiraman terlambat, maka tanaman akan cepat layu dan akhirnya mati karena penguapan dari sel-sel di dalam tanaman. Sedangkan jika kelebihan penyiraman akan tidak baik juga, karena dapat menyebabkan akar tidak dapat bernapas dan menjadi busuk.

 Berbeda halnya apabila kita menanam tanaman langsung di tanah terbuka, meskipun kekurangan air masih dapat bertahan sebab dalam tanah masih banyak cadangan makanan dan air.


Cara Merawat Tanaman



Penyiraman Tanaman 


Penyiraman sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari. Ketika menyiram tanaman, usahakan mengenai semua bagian tanaman, terutama daun-daunnya. Hal ini supaya tanaman kelihatan segar, dan sebaiknya menggunakan semprotan agar air yang mengenai tanaman dapat berupa butiran-butiran halus yang tidak merusak tanaman. Bila tanaman diletakan di dalam ruangan tanaman tidak memmerlukan banyak air sebab di dalam ruangan penguapannya sedikit dan bila diletakan di luar ruangan banyak memerlukan air sebab di luar banyak terjadi penguapan.

Pemupukan 

Pada Tanaman Berhubung setiap tanaman membutuhkan unsur hara yang berbeda-beda antara jenis tanaman satu dengan yang lain maka dosis pemberian pupuk pun berbeda-beda. Sesuaikan pemberian pupuk menurut dosis yang telah ditentukan pada kemasan pupuk yang ada. 

 Tanaman Harus Tetap Sehat

Tanaman yang di letakkan di ruangan, sebaiknya setiap 2 atau 3 minggu sekali dikeluarkan, sebab tanaman juga butuh menghirup udara yang segar dan letak pada tempat yang posisinya terkena sinar matahari. Tanaman dan lingkungan sekitarnya harus tetap bersih, bekas penyiraman atau pemupukan jangan berserakan, karena hal itu dapat mengundang penyakit. 
 Hama dan Penyakit Hama : kutu daun, ulat, thrips, lalat putih, dan jamur
  •  Ulat, tanda-tandanya daun berlubang dan banyak kotoran ulat disekitarnya. Cara mengatasinya, musnahkan ulat dan bersihkan tanaman dari gulma-gulma yang dapat mengundang ulat. 

  • Kutu Daun, tanda-tandanya tanaman menjadi kerdil, daunnya kering atau menggulung, daun dan batangnya lemah. Cara mengatasinya, singkirkan tanaman supaya tidak menyerang tanaman lain, bersihkan daunnya dengan air hangat seminggu sekali dan semprot dengan obat yang sesuai dengan jenis tanaman dan takaran. 

  • Thrips, tanda-tandanya tanaman akan mengalami kegagalan dalam membentuk bunga dan akhirnya rontok, bercak-bercak pada daun, serta daun melepuh kemudian rontok. Cara mengatasinya, tanaman bersihkan dengan air hangat, kemudian semprot daerah yang terkena hama dengan dengan obat yang sesuai dengan jenisnya seminggu sekali. 

  • Lalat Putih, tanda-tandanya permukaan baigian tas dan belakang menjadi hitam dan terdapat kerumunan semut. Lalat ini meletakan telurnya diprtmukaan bawah daun. Cara mengatasinya, semut dimusnahkan, kemudian tanaman dibersihkan dengan air sabun atau air hangat dan disemprot dengan obat yang sesuai. 

  • Jamur, tanda-tandanya tanaman kelihatan layu, mahkota rontok, pucuk daun keriting, serta tangkai dan akar membusuk. Cara mengatasinya, bagian-bagian yang rusak dibuang, kemudian media tanam diganti dengan komposisi yang tepat, dan disemprot dengan obat yang sesuai dengan dengan tanaman.  

Pemangkasan

 Manfaat pemangkasan bagi tanaman hias sangat banyak sekali dampaknya, diantaranya yaitu: Agar cabang tanaman beraturan sehingga mempercantik penampilan tanaman. Pertumbuhan batang dan bunga akan terlihat kompak. Dapat memicu munculnya bunga-bunga baru sehingga meningkatkan pesona tanaman. Agar terhindar dari hama dan penyakit, karena dapat memutus siklus hama. 

 Repotting

Repotting adalah penggantian media tanam, hal ini dilakukan tentunya pada media tanam yang ada di dalam pot karena apabila tidak diganti maka pertumbuhan tanam akan terhambat. Hal itu disebabkan karena kedia tanam sudah terlalu masam atau akarnya yang sudah memenuhi pot. Penggantian media tanam untuk tanaman tahunan dilakukan 9-12 bulan sekali, sedangkan untuk tanaman musiman dilakukan 3-4 bulan sekali. Waktu penggantian media tanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari, apabila siang hari lakukan ditempat yang teduh.